Posts

Showing posts from 2015

Caramel Macchiato Kesukaanku

Image
Penyakit lupa ini rasanya sudah keterlaluan. Bahkan di musim hujan begini, bisa-bisanya aku tidak membawa payung. Karena enggan menari dalam hujan, kuputuskan untuk mampir ke kedai kopi sebelah kantor. Meski hujan, aku tetap setia pada caramel macchiato dingin. Mungkin mereka pikir aku aneh atau mati rasa, tapi biarlah yang penting aku suka. Bangku dekat jendela di pojok kedai merupakan spot favoritku. Di sini aku merasa aman, cukup berjarak dari keramaian. Duhai langit, apa yang membuatmu sedih hingga hujan turun begitu derasnya. Aku harus pulang. Rumahku jauh. Di luar jendela nampak sepasang kekasih berseragam putih abu-abu yang berlarian tanpa payung dengan bahagianya. Ah, masa putih abu-abu memang paling indah. Seketika kenangan itu terurai, memutarkan memori indah tentangnya. Venosika Kartikoputro, aku masih fasih menghapal namanya. Nama itu terasa begitu indah, meski aku belum tahu apa arti namanya. Aku tidak punya nyali sebesar itu untuk bertanya padanya. Dia adalah ketua OSIS s…

Sesederhana Itu

Apakah untuk memahami karakter, perlu ada air mata?  Atau seharusnya kubiarkan saja sesak di dada?  Karena membenci tak lantas mengubah semuanya menjadi baik.  Tapi menyampaikan kadang tak semudah yang diharapkan.  Daripada mengotori hati, menerima karakter sepertinya hal terbaik yang bisa dilakukan.  Seperti baterai yang masing-masing memiliki kutub positif dan negatif,  dan kedua kutub itu memang diperlukan.  Kamu hanya perlu menyesuaikan posisi baterai, supaya dapat menghidupkan jam dinding.  Sesederhana itu.

Jangan Biarkan Waktu Menjawab

"Biar waktu yang menjawab"
Aku selalu terngiang kalimatmu itu. Entah mengapa aku merasa ada kebencian yang mengganjal setiap kali memoriku memunculkan momen tujuh tahun yang lalu itu. Kemanakah waktu? Kapan ia akan menjawab? Mengapa harus waktu yang menjawab? Tidak bisakah kau saja? Aku membutuhkanmu, tapi sepertinya kamu lebih membutuhkan waktu.
Sepertinya Eropa membuatmu bahagia. Tujuh tahun berlalu bagai tujuh jam lalu. Ya, waktu begitu subyektif. Bagiku, tujuh tahun berjalan begitu lambat. Entah aku harus berterima kasih pada teknologi atau tidak karena telah membuat segalanya lebih mudah. Hingga aku mengetahui perkembanganmu melalui situs jejaring sosial.
Aku sadar. Waktu takkan pernah bisa menjawab. Bahkan waktu begitu abstrak. Bukankan waktu hanya kesepakatan?
Aku seharusnya menahanmu sore itu. Atau setidaknya menguraikan perasaanku. Tapi tujuh tahun lalu, aku begitu terpedaya oleh gengsi. Aku terlalu takut harga diriku terusik.

Awan Selalu Menawan

Awan putih di langit biru tampak begitu serasi. Membuat siapa pun yang memandangnya ingin tersenyum. Mereka tersenyum karena melihat paduan yang indah sehingga menyegarkan mata mereka. Aku pun tersenyum, bukan karena awan yang terlihat begitu memesona pada langit biru itu. Aku tersenyum, karena kekagumanku pada awan. Tak peduli seberapa sering matahari menguapkan air laut hingga membuatnya menampung bulir air kemudian mengubah putih yang dimilikinya perlahan kelabu. Tak peduli seberapa gigih angin bertiup hingga lambat laun mengubah bentuk dan letaknya. Namun awan selalu punya cara untuk tetap menawan. Setidaknya untuk mataku.

Grojogan Klenting Kuning

Image
Grojogan Klenting Kuning merupakan sebuah air terjun dengan ketinggian 8 meter yang berada di lereng barat Gunung Ungaran. Secara administratif, letaknya berada di Desa Kemawi, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Dari namanya, air terjun ini mengingatkan kita akan legenda Ande-ande Lumut, cerita mengenai seorang pangeran yang menyamar menjadi rakyat jelata dalam rangka pencariannya menemukan pendamping hidup. Pencariannya berakhir pada gadis yang berpenampilan kurang menarik dibanding ketiga kakak angkatnya, Klenting Merah, Klenting Hijau, dan Klenting Biru. Namun, Klenting Kuning justru memiliki daya tarik bagi Ande-ande Lumut.
Aksesibilitas menuju Grojogan Klenting Kuning terbilang cukup sulit. Selain karena kondisi jalannya memiliki medan yang cukup sulit dengan bebatuan yang ditata kurang beraturan, belum ada angkutan umum untuk menuju lokasi ini. Sehingga, pengunjung harus menggunakan kendaraan pribadi. Fasilitas sekunder pun belum terlalu optimal, padahal grojogan ini berpo…

Kosong

Aku bilang kosong.

Kesukaan Kita

Aku Bosan