Posts

Showing posts from 2017

Pohon yang Menyejukkan

Image
Dalam rangka bertebaran di muka bumi, kutapaki sedikit demi sedikit tiap jengkal lekuk bumi. Tentu banyak yang ditemui dalam setiap perjalanan. Kadang mengejutkan, kadang menyebalkan, menyedihkan, dan tentunya banyak juga yang menyenangkan. Pernah melihat pohon? Pernah memandanginya? Sejuk bukan? Kuceritakan sedikit, kebetulan pohon yang kutemui ini mampu menyesapkan sejuk. Menyenangkan sekali rasanya duduk di bawah pohon ini. 
Dapat dikatakan pohon ini mampu mendistraksi persepsiku terhadap waktu. Hari demi hari tak lagi ada bosan. Kuamati lamat-lamat. Betapa pohon ini terlalu menarik untuk luput dari perhatian.

Gambar tersebut tentu hanya sebagai ilustrasi. Semakin lama kau mengamati suatu objek, biasanya akan semakin banyak informasi yang didapatkan, bukan? Meskipun tidak semua informasi tersebut adalah sesuatu yang ingin diketahui.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alla…

I Got A Feeling

"Please be careful, I think he's a bad person."
"How do you know that?" I asked my friend, with full of curiousity.
"I got a feeling, from the first time I saw him," she answered.


It was the conversation between my friend and I, that night. We both don't know him. But she got a bad feeling about him, and I didn't. I need more 'data' to convince me. Ever heard about phrase "let the time answer"? Blah.

I didn't feel like I gotta worry, like she did. But she had a reason that she can't explain. We can't judge people just by their look, right? Oh, please.

Guess what? She was right, I can tell. I mean, he did something bad. He crossed the line.

Then, my question is...how could you know when your instinct is worth to be followed? Can it be called 'instinct'? Yea, that voice which come to your head for a sudden.

I know, as a human, we're part of universe. That's why it's possible to communicate, if we …

Jendela

Pagi menawarkan sinar sang surya
berusaha masuk melalui berbagai celah

Sore menawarkan semburat jingga
lukisan langit yang begitu indah

Malam mencoba tawarkan bintang
hiasan dalam gelap berupa titik-titik terang

Namun
jendela masih tertutup




Dasar Alien!

"Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara,  langit, awan atau hujan..." ---Dee Lestari

Aku masih ingat betul, bagaimana ia meredupkan cahaya di sekitarnya sehingga refleksi cahaya terkumpul pada dirinya. Kemudian mataku mulai mampu melihat kehadirannya. Semakin lama, cahaya itu semakin terang. Sepertinya hanya soal waktu, mataku menjadi buta karenanya.

Pantas saja, dia bukan manusia sepertiku. Dia itu alien! Pasti planetnya mirip sekali dengan Bumi, karena dia bisa beradaptasi dengan begitu baik. Dia bahkan mampu membuatku merasa bahwa dia telah mengenalku. Atau mungkin alien memang diciptakan dengan tingkat intelegensi lebih baik daripada manusi…

Biar saja

Dan udara yang kau kira lembut,
nyatanya mampu membuat air menjadi batu.
Lihat saja gantungan di langit-langit gua itu.

Dan batu yang kau kira keras,
siapa sangka bisa lebur dalam air juga.
Lihat saja karang yang diterpa ombak.

Dan kau masih saja terpaku
dengan segala hal yang berkecamuk
dalam benakmu.


Kata Rasa

ada kalanya kata tak mampu
mengekspresikan rasa

ada kalanya rasa tak butuh
dideskripsikan kata

kemudian
mereka mulai kehilangan
makna

Kehilangan Juni

Aku terlalu terlena
Juni begitu memesona
Kemudian waktu menamparku
Aku kehilangan Juni

Cinta Via Daring

Kue Tiramisu Dingin Untukmu

Claudia masih berdiri di depan etalase toko kue yang direkomendasikan temannya karena selain enak, toko kue ini sudah buka sejak pagi hari. Berbagai macam kue terpampang dengan cantiknya. Memilih yang terbaik memang membutuhkan waktu. Pelayan toko kue dengan sabar menampilkan senyumnya supaya tetap terlihat ramah. Jika saja Claudia atau pengunjung lainnya tahu, pelayan toko kue bisa saja berusaha cukup keras untuk tetap tersenyum karena pekerjaannya menuntutnya demikian. Meski mungkin pelayan toko sedang memikirkan cara mendapatkan biaya tambahan untuk anak bayinya yang tiba-tiba saja demam tinggi beberapa hari ini. Tapi, ya, pelayan toko kue itu tetap harus tersenyum kepada setiap pengunjung. Dan Claudia masih saja belum bisa menentukan kue mana yang akan ia pilih. Blackforest terlalu penuh dengan coklat. Meski banyak orang tidak bisa menolak godaan coklat, tapi bukan berarti semua orang bisa menerima coklat. Rainbow cake terlihat begitu menarik dengan variasi warnanya, tapi bisa saja…

Kamu Bukan Ayahku

Aku sudah dengan cantiknya menikmati kopi di kedai kesukaanku dan Mas Kusuma. Sore ini kami janjian bertemu, ada yang ingin kubicarakan dengannya jadi aku memintanya datang. Sengaja kupilih tempat di kedai kesukaan kami, barangkali memori tentang apa yang telah kami lakukan dapat menstimulus amigdala Mas Kusuma. Aku berencana memesankan americano untuknya, berharap kafein yang berkumpul dalam satu gelas itu dapat memicu dopamin Mas Kus sehingga aku hanya perlu menyampaikannya dengan anggun dan sedikit senyuman. Manusia memang pandai berencana.

Jam masih menunjukkan pukul 16.30, kami janjian jam 5 sore. Aku sengaja datang lebih awal beberapa puluh menit. Rencananya supaya aku punya waktu untuk mengatur detak jantung dan pernapasanku. Lagi-lagi, mengatur rencana sepertinya akan jadi kegemaran baruku. Aku lihat lagi warna bibirku, masih terpoles rapih. Tenang saja, aku tidak menggunakan warna merah, hanya warna agak coral supaya terlihat lebih natural. Aku hanya tidak ingin Mas Kus beran…

You're Always Be My King, Dad

"Nes, kok gak ada makanan di meja makan? Bapak lapar!" seru bapak dengan suaranya yang cukup mengagetkanku dari lamunan. Aku yang lebih senang menghabiskan waktu di dalam kamarku, segera menuju tempat tidur. Berpura-pura tidur sejauh ini adalah cara paling aman dari omelan bapak. Ya, laki-laki paruh abad itu adalah ayahku. Marah adalah hobi barunya semenjak ibu pergi.

"Nes! Tidur saja kerjaanmu! Masak sesuatu untuk dimakan!" kali ini bapak nekat berteriak di kamarku. Ternyata berpura-pura tidur tidak selamanya aman. Aku bergegas dari kasur kesayanganku. Kuambil jaket denim kesukaanku. Aku melarikan diri dengan motor  biru andalanku. Hei, jangan salah sangka dulu. Aku bukan melarikan diri seperti adegan film di televisi. Aku tidak sepengecut itu untuk kabur dari rumah. Aku lebih kuat dari ibu, aku akan bertahan menghadapi bapak. Aku hanya keluar membeli makanan, buat apa juga aku menghabiskan waktu dan tenaga dan segala hal yang bisa terbuang untuk memasak. Aku tid…

Bolehkah Aku Menyimpan Kenangan Ini?

Jumat malam di jalanan Jakarta merupakan salah satu sarana untuk melatih kesabaran. Aku tidak naik kereta karena sedang ada gangguan rel anjlok di Stasiun Jatinegara, jadi aku memilih naik motor. Jadilah perjalanan panjang dari kantor menuju rumahku harus kuhadapi dengan sabar. Entah sial atau berkah,di tengah perjalanan hujan ikut menemani perjalananku. Kuarahkan motorku ke tepi jalan untuk memakai jas hujan. Kemudian, lagi-lagi aku ingat momen indah itu. Ya, apalagi kalau bukan kenangan bersamamu.

Waktu itu kamu menjemputku dengan motor merah pujaanmu. Bahkan banyak pula orang yang ikut memuja motormu. Jika saja kamu tahu, ada beberapa temanmu yang dengan nyinyir mengatakan bahwa aku beruntung bisa menjadi teman dekatmu, karena kamu memiliki motor merah itu. Aku tak habis pikir, apakah menurut mereka kamu tidak lebih berharga? Jika saja mereka tahu, aku tak pernah ikut memuja motor merah itu. Jika saja mereka tahu, pupil mataku membesar ketika aku melihatmu, bukan motor merah itu.

S…

Tentang Sebuah Pengakuan

Gaun merah marun tanpa lengan menjadi pilihanku untuk makan malam bersama Mas Dirga. Tak lupa kupakai lipstik merah yang agak gelap milik salah satu merk lokal yang kualitasnya tidak mengecewakan. Sepatu hak tinggi warna hitam yang Mas Dirga hadiahkan untukku telah menempel dengan indah pada kakiku. Jika cermin di kamarku bisa bicara, mungkin dia akan muak dan mencaciku. Sejak satu jam lalu, kupandangi diriku depan cermin. Aku hanya ingin melihat refleksi diriku tampak samping kiri, tampak samping kanan, belakang, depan, segala arah. Setiap wanita pasti ingin terlihat cantik sempurna ketika kencan bukan?

Terdengar suara klakson mobil Mas Dirga. Aku cek lagi seluruh aspek penampilanku untuk terakhir kalinya sebelum bertemu dengan Mas Dirga. Perfect. Mas Dirga sudah berdiri depan mobil sedan hitamnya dengan setelan jas dan sepatu hitam yang tak kalah mengkilap dari riasan rambutnya. Aku merasa menjadi perempuan paling bahagia malam ini.

"Silakan tuan putri cantik kesayanganku."…

Kepada Hujan, Tentang Aku yang Menunggumu di Kedai Sore Itu

Kemarin aku masih mencintai hujan. Menganggapnya sebagai suatu fenomena berharga yang Tuhan berikan. Kemarin. Sebelum pertemuan kita terhambat karena kaubilang hujan turun ketika kau hendak berangkat menuju tempat pertemuan kita.

Aku memilih tempat di sudut kedai. Seperti biasa, dekat jendela. Sebenarnya bukan karena aku ingin menatap bulir-bulir hujan yang turun. Tapi supaya aku dapat lebih mudah menemukan kedatanganmu.

Ada sepasang remaja melewati depan kedai sore itu. Dengan seragam putih abunya. Dengan tawa yang seakan membuat orang yang melihat mereka mengira betapa kebahagiaan sedang menyelimuti mereka. Dengan lari-lari kecil yang menambah sensasi bahagia.

Aku salah satu orang yang melihat kebahagiaan itu. Kuambil ponselku. Mungkin akan aku gunakan gambar ini untuk postingan terbaruku dengan tambahan kutipan yang membuat beberapa orang merasa tersentuh.

"Hujannya makin lebat, kalau 30 menit belum reda, mungkin kita atur pertemuan berikutnya."

Pesan masuk darimu. Sudah …

Jangan Ketuk Pintu

Aku masih terduduk di kursi kamarku. Rumah yang kutinggali tidak terlalu besar, namun merupakan tempat paling nyaman bagiku. Jarak kamarku dan pintu depan tidak terlalu jauh, karena itu aku dapat mendengar jika ada tamu yang hendak berkunjung.

Duduk di depan cermin akhir-akhir ini menjadi aktivitas kesukaanku. Aku hanya ingin menikmati diriku, menatap lekat setiap yang kupunya. Kucoba tersenyum, cantik. Kucoba lihat dari berbagai sisi, ini masih diriku. Semoga aku mengingat setiap detilnya.

Ada yang mengetuk pintu. Sekali. Aku masih duduk di kursi kamarku, depan cermin itu. Ketukan kedua. Aku mulai beranjak dari kursi, menuju pintu. Ketukan ketiga. Kusingkap sedikit tirai untuk melihat siapa yang datang. Seorang pemuda, berpakaian kasual, tangannya diletakkan di belakang, entah apa yang dibawanya. Setelah aku hendak membuka pintu, kemudian dia pergi.

Mungkin aku terlalu lama membuka pintu. Mungkin dia punya kegiatan lain. Mungkin dia tidak benar-benar ingin berkunjung. Dan banyak kemu…

Gangguan Sinyal Dong, Please!

Sekitar pukul delapan malam bisa dibilang merupakan puncak arus balik para pejuang pencari nafkah. Tak heran, pada jam ini Stasiun Manggarai terlihat seperti lautan manusia. Terlebih, kereta yang menuju ke Bekasi, maupun Bogor. Padahal aku sudah menyiasati jam pulang kerjaku selepas maghrib, supaya tidak berdesakan di jalan raya menuju stasiun. But, yeah, that's a life....in Jakarta. Enjoy Jakarta! 
Sebelum berjuang untuk bisa menaiki kereta Bekasi, kupikir ada baiknya membeli kopi dingin rasa alpukat kesukaanku. Setidaknya kafein dapat memasukkan adrenalin ke dalam sistem tubuhku supaya mendapat tambahan energi, dan juga memanipulasi produksi dopamin supaya aku merasa semua ini baik-baik saja.
*ting-nong-ning-nong* "Commuter line tujuan Bekasi berangkat dari Stasiun Cikini, akan dipersiapkan masuk di peron 4."
Kudengar pengumuman itu melalui pengeras suara. Aku beranjak dari tempatku menunggu, di peron 2. Karena di peron 4 sudah begitu banyak penumpang yang menunggu jug…

Memelihara Asumsi

Selama asumsi itu membuat dopamin memengaruhi otaknya, selama itu pula dia membiarkan asumsi yang hanya menyenangkannya bersarang dalam dirinya. Terpeliharalah kebahagiaan, semu. 
Sebenarnya logika telah memeringatinya beberapa kali. Namun, akal sehatnya sedang lumpuh. Dia membiarkan dirinya dipermainkan asumsi. 
Sepertinya waktu mulai menyunggingkan senyum miringnya. Bukan membuat waktu terkesan jahat, namun cepat atau lambat kenyataan akan menghempaskan asumsi-asumsi itu.
Lalu dia merasa sesak. Merasa dunia tak adil. Merasa dipermainkan keadaan. Dalam taraf yang lebih ekstrim, bahkan merasa dirinya tak layak. Merasa kehilangan......
Kehilangan? Mengapa harus merasa kehilangan? Ketika sejatinya dia tak pernah benar-benar memiliki.

What is Your Purpose of Life?

Image
I used to think, what's my purpose of life?
What is the aim of my existance?
Have you ever thought that too?

Well, as a muslim, if I read again, it already has been written in Quran. Take a look on Surah Adh-Dhariyat verse 56.


So, for whoever asking those kind of questions, let me remind you about that. From there, at least we have foundation about our goal in this temporary life.

When we're going to work, let it be based on Allah. When we're going to eat, remember it's because Allah's blessing. When you're happy or sad, don't forget Allah always there, closer than our artery.

May peace be upon us.

You're Not That Special

"Sorry to say this, but you're not that special."


Kalimat itu masih begitu jelas terngiang. Entahlah akan tertanam atau dapat menguap begitu saja dari benakku. Lagi-lagi aku membiarkan diriku hanyut. Menekuni memori demi memori. Apa yang kucari?
Belum berhasil. Hari ini aku gagal lagi. Mungkin besok bisa.
Aku beranjak dari tempat dudukku. Tempat duduk andalan setiap aku mampir ke kedai kopi langgananku. Tempat duduk andalan setiap kali aku butuh menyelami diriku. Namun lagi-lagi, aku membiarkan diriku hanyut.
***
Kemudian kamu datang. Menatapku dengan sepasang mata yang belum berani kuartikan maknanya. Bukan, rasanya ini bukan soal waktu. Aku tak yakin.
"Kemarin, hari ini, besok, atau kapan pun, kamu tetap kamu, dan aku tetap aku. Apa yang membuatmu khawatir?"
"Kadang waktu tak peduli siapa aku atau kamu.", jawabku.