Tentang Sebuah Pengakuan
Gaun merah marun tanpa lengan menjadi pilihanku untuk makan malam bersama Mas Dirga. Tak lupa kupakai lipstik merah yang agak gelap milik salah satu merk lokal yang kualitasnya tidak mengecewakan. Sepatu hak tinggi warna hitam yang Mas Dirga hadiahkan untukku telah menempel dengan indah pada kakiku. Jika cermin di kamarku bisa bicara, mungkin dia akan muak dan mencaciku. Sejak satu jam lalu, kupandangi diriku depan cermin. Aku hanya ingin melihat refleksi diriku tampak samping kiri, tampak samping kanan, belakang, depan, segala arah. Setiap wanita pasti ingin terlihat cantik sempurna ketika kencan bukan? Terdengar suara klakson mobil Mas Dirga. Aku cek lagi seluruh aspek penampilanku untuk terakhir kalinya sebelum bertemu dengan Mas Dirga. Perfect. Mas Dirga sudah berdiri depan mobil sedan hitamnya dengan setelan jas dan sepatu hitam yang tak kalah mengkilap dari riasan rambutnya. Aku merasa menjadi perempuan paling bahagia malam ini. "Silakan tuan putri cantik kesayanganku....

Comments
Post a Comment