Jangan Ketuk Pintu

Aku masih terduduk di kursi kamarku. Rumah yang kutinggali tidak terlalu besar, namun merupakan tempat paling nyaman bagiku. Jarak kamarku dan pintu depan tidak terlalu jauh, karena itu aku dapat mendengar jika ada tamu yang hendak berkunjung.

Duduk di depan cermin akhir-akhir ini menjadi aktivitas kesukaanku. Aku hanya ingin menikmati diriku, menatap lekat setiap yang kupunya. Kucoba tersenyum, cantik. Kucoba lihat dari berbagai sisi, ini masih diriku. Semoga aku mengingat setiap detilnya.

Ada yang mengetuk pintu. Sekali. Aku masih duduk di kursi kamarku, depan cermin itu. Ketukan kedua. Aku mulai beranjak dari kursi, menuju pintu. Ketukan ketiga. Kusingkap sedikit tirai untuk melihat siapa yang datang. Seorang pemuda, berpakaian kasual, tangannya diletakkan di belakang, entah apa yang dibawanya. Setelah aku hendak membuka pintu, kemudian dia pergi.

Mungkin aku terlalu lama membuka pintu. Mungkin dia punya kegiatan lain. Mungkin dia tidak benar-benar ingin berkunjung. Dan banyak kemungkinan-kemungkinan yang menggerayangi pikiranku. Lagipula, aku tak mungkin sembarangan menerima tamu masuk ke rumah, bukan?

Beberapa waktu berikutnya, kejadian pintu diketuk terulang. Kali ini aku menunggu hingga ketukan ketiga. Kulihat dari balik tirai, ternyata orang yang berbeda. Tapi aku tetap menunggu hingga ketukan ketiga. Jika dia benar-benar ingin kubukakan pintu, dia akan menunggu. Baru ketukan kedua, dia pergi.

Sebelum kejadian ketuk pintu terulang kembali, kupasang tulisan di depan pintu.
"Jangan ketuk pintu, jika tidak ingin masuk."

Popular posts from this blog

Kepada Embun, Tentang Daun Yang Basah

Harapan dan Khayalan Itu Beda Tipis?