Kisah Ikan dan Burung

Siang ini aku sedang menikmati bekal makan siangku di bangku kayu kesukaanku dekat kolam belakang sekolah. Di kolam itu ada banyak sekali ikan, dan mereka cantik-cantik. Semilir angin, matahari yang bersinar terang, langit yang begitu cerah, hari ini adalah hari yang sempurna untuk menikmati bekal makan siangku. 

Ada ikan cantik yang biasanya berenang ke tepian kolam dekat tempatku duduk. Kukira ia ingin mengajakku berteman. Namun, tak jauh dari tempatku duduk, ada seekor burung kecil yang sedang istirahat dan minum air kolam. Ini bukan kali pertama aku menikmati bekal makan siangku di bangku kayu dekat kolam belakang sekolah. Pemandangan ikan dan burung itu bukan kali pertama tertangkap penglihatanku. Manis sekali mereka.

Namun siang ini terasa berbeda. Siang ini ikan cantik itu terlihat gelisah. Ia berenang ke tepi, kemudian ke tengah kolam, lalu ke tepi kembali. Kulihat sekelilingku, sang burung belum tiba. Bekal makananku sudah habis. Bel masuk belum berbunyi, jadi aku belum ingin beranjak. Tanpa kusadari, aku juga ikut menanti kedatangan sang burung. Kemudian, yang dinanti hinggap juga. Sang ikan cantik mulai berenang ketepian. 

Entah mengapa, sang ikan terlihat murung. Ternyata sang burung juga murung. Aneh, kali ini aku mengerti yang mereka perbincangkan. 

"Sepertinya siang ini akan menjadi siang terakhirku untuk beristirahat dan minum air di kolam ini," kata sang burung.

"Mengapa?" Sang ikan bertanya gelisah.

"Biar bagaimana pun, kita hidup pada dunia yang berbeda. Aku tak mampu berenang, kau pun tak sanggup mengepakkan siripmu untuk terbang. Bagaimana caranya aku mengenal keluargamu? Bagaimana caraku mengenalkanmu pada keluargaku? Kita tak mungkin bersatu. Jangan mengutuk, menerima adalah cara paling ampuh untuk mengobati segala sakit ini. Kita ini cuma makhluk dengan segala keterbatasan. Terima saja bahwa ada hal yang sangat kita inginkan, tapi tak bisa terwujud, sekeras apa pun kita berusaha." 

Kemudian sang burung terbang kembali, pada kawanannya. Kemudian aku terbangun. Kolam ikan di depanku nampak sepi, tak ada riuh gelombang tanda ikan berenang. Langit masih cerah, tapi terlihat begitu kosong tanpa burung yang berkeliaran.

Comments

Popular posts from this blog

Ilusi Cinta

Harapan dan Khayalan Itu Beda Tipis?

Kepada Embun, Tentang Daun Yang Basah