Jika harus seperti ini skenarionya Jika harus aku yang memainkan peranannya Jika harus ada jarak yang menambah cerita Aku tetap bahagia Kadang realita tak sesuai ekspektasi Kadang hati terbelit imajinasi Kadang akal dikuasai emosi Aku tetap nikmati Meski berkali perang kalbu Meski hasrat sering mencipta pilu Meski sikapmu tak sadar menjadi sembilu Aku tetap menunggu
Hai, Ratih.. Ini aku, dirimu. Telah kita lalui bersama 11.961 hari, mulai dari hari pertama tangisanmu bergema di rumah sakit itu, hingga hari ini, saat tangisanmu mulai kau simpan untuk diri sendiri. Tentu ada hari di mana hidup terasa mudah, jalan terarah, membuat senyummu merekah. Meski ada juga hari yang membuat matamu merah, atau kepalamu terasa mau pecah. Setelah banyak hari yang dijalani, aku bersyukur bahwa pandangammu soal "hidup bahagia" bukan hanya tentang merasa senang dan gembira, tapi menerima. Ada hari di mana harapanmu kau pikir tak terwujud. Padahal barangkali ia mewujud hal lain. Kita sama-sama belum tahu pasti apa yang akan terjadi nanti. Tapi tenang aja, sebagai makhluk yang diciptakan oleh zat yang Maha Menyayangi, gak mungkin kita ditinggalin sendiri. Tawa, tangis, marah, bangga, kecewa, biarkan itu jadi tambahan warna untuk kanvas hidup kita. Biar seimbang. Inget ya, tugas kita sekarang tuh berusaha dan berdoa. Buat nentuin hasilnya, percaya aja, Allah ...
Gaun merah marun tanpa lengan menjadi pilihanku untuk makan malam bersama Mas Dirga. Tak lupa kupakai lipstik merah yang agak gelap milik salah satu merk lokal yang kualitasnya tidak mengecewakan. Sepatu hak tinggi warna hitam yang Mas Dirga hadiahkan untukku telah menempel dengan indah pada kakiku. Jika cermin di kamarku bisa bicara, mungkin dia akan muak dan mencaciku. Sejak satu jam lalu, kupandangi diriku depan cermin. Aku hanya ingin melihat refleksi diriku tampak samping kiri, tampak samping kanan, belakang, depan, segala arah. Setiap wanita pasti ingin terlihat cantik sempurna ketika kencan bukan? Terdengar suara klakson mobil Mas Dirga. Aku cek lagi seluruh aspek penampilanku untuk terakhir kalinya sebelum bertemu dengan Mas Dirga. Perfect. Mas Dirga sudah berdiri depan mobil sedan hitamnya dengan setelan jas dan sepatu hitam yang tak kalah mengkilap dari riasan rambutnya. Aku merasa menjadi perempuan paling bahagia malam ini. "Silakan tuan putri cantik kesayanganku....
Comments
Post a Comment