Skip to main content

BINTANG SIAPA ?

Aku termenung dalam sudut gelap ruang
Segala bayang masa lalu dalam pikirku menggenang
Tiba-tiba ada sebuah bintang datang
Sinarnya ubah gelap menjadi terang

Lalu air mataku diusapnya
Harapan itu masih ada katanya
Tapi aku tak lekas percaya
Diberikanlah indah senyumnya

Dia mengajak ku terbang kelilingi langit
Ditunjukkan padaku masih banyak yang lebih sakit
Tapi mereka tak lekas jatuh sakit
Dia berhasil buat aku bangkit

Ku pandangi lekat sinar yang terpancar itu
Ada kedamaian merasuki labirin hatiku
Ingin rasanya bintang itu aku rengkuh
Teganya dia malah beranjak meninggalkanku

Aku berlari dengan gigih
Bintang indah itu ku coba raih
Tapi dia terlalu tinggi sulit ku gapai
Oh sial tanganku tak sampai

GUBRAK . . .
Aku terjatuh dari kursi goyang nenek yang rusak
Dan cahaya bintangnya sudah tak lagi nampak
Sepertinya bukan aku yang layak

Comments

  1. saya suka sama puisi nya..
    baguus banget :)

    ReplyDelete
  2. haha makasih :)
    kalau lagi galau juga pasti bisa merasakannya.

    ReplyDelete
  3. hahaha iia nih...
    dapet bgd fill nya sama saya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kepada Embun, Tentang Daun Yang Basah

Pagi ini tidak terlalu berbeda dengan pagi-pagi biasanya. Semesta telah hafal perkara basahnya daun di pagi hari akibat embun yang menggelayutinya. Meski tak pernah bertahan sepanjang hari karena matahari akan dengan tega mengubah embun menjadi uap. Membuat daun yang basah lantas kering. Namun daun dengan sabar menanti hingga pagi berikutnya datang kembali. Menanti datangnya embun.
Kedatangan dan penantian keduanya kemudian menjadi siklus. Siklus yang terkandung manis dan pahitnya rasa. Sayangnya kadang siklus memiliki kesalahan. Kadang malam diterpa hujan kemudian pagi menjadi tidak begitu cerah. Meski daun akan tetap basah, tapi bukan karena embun. Maka lahirlah rindu. Rindu yang begitu ajaib sehingga mampu membedakan embun atau sekedar bulir hujan yang sama-sama membuat daun menjadi basah di pagi hari.
Tapi daun terlalu pemalu untuk menyampaikan rindu. Pikirnya menyimpan semua rindu-rindu itu akan lebih baik. Daun begitu pandai menyembunyikan semua rindunya. Saat embun datang, daun…

Harapan dan Khayalan Itu Beda Tipis?

Entah karena pesimis atau ambisius atau apalah sebutannya, Siska sudah tak mengerti lagi apa yang telah terjadi padanya. Bayangan pria itu seperti tak lelah bertengger, berputar-putar dalam memori otaknya. 
"Aaaaaaah apa aku sudah gila? Sepertinya dia memang telah membuatku tergila-gila! Bagaimana ini?" ungkap Siska di depan cermin dalam kamarnya.
Siska seperti keranjingan segala sesuatu tentang pria itu. Tak jarang dia berlagak seperti detektif. Mencari tahu segala hal yang bersangkutan dengan pria itu. Bahkan  tak pernah lelah memikirkan seseorang yang belum tentu memikirkannya juga. Dia bahkan baru mengenalnya ketika ada acara kampus bulan lalu. Berbagai cara telah dilakukan Siska hanya untuk mencari informasi mengenai pria itu. Sulit sekali rasanya bahkan hanya untuk mengetahui namanya. Sampai saat ini Siska juga belum tahu pasti apa yang menyebabkan pria itu begitu memesonanya.  
Hari demi hari berlalu, Siska terus berusaha menjalankan misinya, entah akan jadi mission …