Posts

Showing posts from 2014

Kupu-kupu Kesukaanku

Hitam Putih

Image

Kepada Embun, Tentang Daun Yang Basah

Pagi ini tidak terlalu berbeda dengan pagi-pagi biasanya. Semesta telah hafal perkara basahnya daun di pagi hari akibat embun yang menggelayutinya. Meski tak pernah bertahan sepanjang hari karena matahari akan dengan tega mengubah embun menjadi uap. Membuat daun yang basah lantas kering. Namun daun dengan sabar menanti hingga pagi berikutnya datang kembali. Menanti datangnya embun.
Kedatangan dan penantian keduanya kemudian menjadi siklus. Siklus yang terkandung manis dan pahitnya rasa. Sayangnya kadang siklus memiliki kesalahan. Kadang malam diterpa hujan kemudian pagi menjadi tidak begitu cerah. Meski daun akan tetap basah, tapi bukan karena embun. Maka lahirlah rindu. Rindu yang begitu ajaib sehingga mampu membedakan embun atau sekedar bulir hujan yang sama-sama membuat daun menjadi basah di pagi hari.
Tapi daun terlalu pemalu untuk menyampaikan rindu. Pikirnya menyimpan semua rindu-rindu itu akan lebih baik. Daun begitu pandai menyembunyikan semua rindunya. Saat embun datang, daun…

Berhenti Berharap

Jangan!
Jangan pernah lakukan
Hidup tanpa harapan apa artinya?
Tetap gantungkan harapan 5cm atau 10 cm atau 15 cm di depan dahimu
atau beberapa sentimeter
yang terpenting matamu masih menjangkaunya
barangkali merangsang otak


Semangat!
sepertinya bisa jadi rekan yang baik
Tetaplah semangat pada harapanmu
barangkali semangat membantumu lebih kuat

Jangan berhenti berharap
meski mungkin menyakitimu
semoga akhirnya memberi bahagia
Harapan membantumu tetap hidup

Cuma Catatan Kecil

Karena sejatinya setiap hal yang tercatat seharusnya dapat menjadi pembelajaran dan bahan untuk perbaikan di waktu yang akan datang. Begitulah sebaik-baiknya orang, lebih baik dari waktu sebelumnya. Namun tak jarang beberapa hal luput, tak tercatat, kemudian terabaikan. Meski tak sengaja menuai luka bagi yang lain. Meski tak sadar dosa tertumpuk. Katanya wajar, namanya juga manusia, khilaf. 
Pantas saja para tikus elite itu tetap hidup layak di negeri tercinta yang kekayaan sumber daya alamnya dapat dikeruk kapan pun sesuai kepentingan golongan tertentu. Menikmati indahnya hasil "kerja keras" bersama orang tercinta. Lucu ya? Katanya cinta, tapi tidak bertanggungjawab memberi yang baik. Semua dianggap mudah ketika uang di genggaman. Ketika tertangkap, bilang saja khilaf. Namanya juga demokrasi. Tak peduli ratusan jiwa terlantar di jalanan, membuang harga diri demi sesuap nasi. 
Ah tapi ini cuma catatan kecil. Tak lantas mengubah keadaan. 
Pantas saja ada anak tukang becak ya…

Terima Kasih Hujan

Image
Di depan toko roti
Aku berdiri memandangi
Bukan meratapi
Bulir-bulir hujan basahi pipi

Ketika jemari mulai membeku
Kamu datang membuyarkan lamunanku
Menawarkan jasa untuk tambahan uang saku
Tanpa alas kaki sebagai pelindung dari paku

Hujan kali ini terasa berbeda
Hujan kali ini tak sedingin biasanya
Hujan kali ini membuatku percaya
Cinta itu masih ada

Kukira hati ini sudah mati
Karena lama kusimpan dalam peti
Setelah dia menancapkan belati
Kemudian pergi tanpa simpati

Saat hujan biaskan peluh
Ketika mereka mencibir bajumu yang lusuh
Kala ujian tak lekas buatmu mengeluh
Sejak itu kau mampu buatku jatuh

Memandangmu Dari Jauh

Image
Jika harus seperti ini skenarionya
Jika harus aku yang memainkan peranannya
Jika harus ada jarak yang menambah cerita
Aku tetap bahagia

Kadang realita tak sesuai ekspektasi
Kadang hati terbelit imajinasi
Kadang akal dikuasai emosi
Aku tetap nikmati

Meski berkali perang kalbu
Meski hasrat sering mencipta pilu
Meski sikapmu tak sadar menjadi sembilu
Aku tetap menunggu

Surat Cinta Untuk Commutter Jabodetabek

Tidak dapat dipungkiri, kereta merupakan alat transportasi yang paling diminati oleh masyarakat, termasuk saya. Untuk menjangkau kampus, tiap harinya saya memilih menggunakan kereta. Selain karena tarifnya yang murah, waktu tempuhnya juga lebih cepat. Tak heran jika kereta menjadi pilihan transportasi masyarakat.
Ada banyak kejadian menarik yang saya alami selama menggunakan kereta. Yang paling berkesan adalah ketika kereta mulai sesak namun masih banyakpenumpang yang menjejalkan diri agar bisa masuk. Saya semakin menyadari betapa hidup butuh diperjuangkan. Ada tiga golongan yang dapat saya kategorikan dari penumpang. Pertama, saya menyebutnya golongan pro kebersamaan. Golongan ini senantiasa mendukung penumpang yang hendak masuk meskikereta telah padat. mereka sadar bahwa kereta sudah menjadi kebutuhan bersama. "dorong aja mba" "ayo bu sini saya tarik dari dalem" Begitulah reaksi golongan ini terhadap penumpang yang hendak naik. Saling membantu. Kemudian golongan…

Opera Jatuh Bangun

Aku tak pernah menyadari kapan benih itu muncul. Dia datang dengan tiba-tiba. Aku tak pernah memberinya izin. Namun dia malah menetap. Kemudian tumbuh. Semakin hari semakin bertambah. Awalnya ku pikir tak masalah. Karena dia begitu manis. Mana tega aku membunuhnya. Ternyata dia cukup pintar. Aku merasa dikelabuhi. Memang begitulah caranya hidup. Manis, tapi berduri. 
Mereka bilang itu sebuah proses. Oh, proses untuk membunuhku? Pembunuhan berencana barangkali. Serangkaian alurnya begitu tersusun rapih. Aku bias karena paradigma yang ku buat. Aku begitu percaya pada dongeng ibu peri. Segalanya akan berakhir bahagia. Ibu peri tak hadir di dunia nyata. Tongkat saktinya tak mampu mengobati perih.
Kau dengar jeritan itu? Wow! Padahal di sana hanya ruang kosong sekarang. Tidak ada mekanisme apa pun yang bekerja. Kecuali puing-puing waktu lampau yang bersisa. Kasihan. Waktu pandai memberi kejutan. Tanpa diberi kesempatan untuk bersiap. Oh ya, ini kan sebuah proses. Aku rasa aku bisa mempela…

Ello vs Kamu

Kamu tau gak bedanya Ello sama kamu?
Kalo Ello pergi untuk kembali, kalo kamu datang untuk pergi :p

Cinta vs Akal

Cinta, gabungan lima huruf yang membentuk sebuah kata. Sebuah kata yang mampu mengubah segalanya. Cinta bagai angin yang hanya mampu dirasa kehadirannya.
Cinta itu tak masuk akal ! Buat apa mencinta sesuatu yang tak bisa membalasnya? Buat apa mencinta sesuatu yang pada akhirnya hanya menciptakan kecewa?

Tapi memang seperti itulah cinta. Seperti kedua orangtua yang tetap mencinta anaknya meski mereka sadar tak akan mendapat balasan setimpal. Cinta tak mengharap imbalan. Cinta itu tulus.
Tapi memang seperti itulah cinta. Seperti cinta-Nya kepada segala yang diciptakan meski Dia tahu akan dikecewakan. Cinta tak mengharap kesempurnaan. Cinta itu memaafkan.
Ya, cinta memang tak masuk akal. Terkadang akal tak mampu menjadi media untuk semua hal. Mungkin itulah mengapa tuhan menyisipkan perasaan. Supaya mampu merasa. Rasa yang belum mampu seutuhnya diterima akal.

Memendam Rindu

Image
Setiap bunga pasti memiliki keindahannya masing-masing. Percayalah. Bukan karena kamu tak memiliki keindahan, sehingga kumbang itu tak tertarik untuk menghisap madumu. Mungkin dia bukan kumbang yang kamu butuhkan. Sederhana saja. Tak perlu berasumsi terlalu kompleks sehingga membuat kamu terlalu berpikir. Nikmati dan rasakan saja sensasinya. 
Mungkin saat ini Tuhan ingin kamu belajar bagaimana caranya memendam rindu. Agar pada waktu yang tepat nanti rindu-rindu itu bisa kamu lepaskan dengan cara yang indah. Membuatmu bahagia. Membuatnya bahagia. Tak perlu terburu-buru, Dia memberimu waktu supaya kamu bisa memancarkan keindahan itu. Kumbang itu hanya belum mampu melihat betapa indahnya mahkota yang kamu miliki.

Dok. Pribadi (2013)