Skip to main content

Kepada Hujan, Tentang Aku yang Menunggumu di Kedai Sore Itu

Kemarin aku masih mencintai hujan. Menganggapnya sebagai suatu fenomena berharga yang Tuhan berikan. Kemarin. Sebelum pertemuan kita terhambat karena kaubilang hujan turun ketika kau hendak berangkat menuju tempat pertemuan kita.

Aku memilih tempat di sudut kedai. Seperti biasa, dekat jendela. Sebenarnya bukan karena aku ingin menatap bulir-bulir hujan yang turun. Tapi supaya aku dapat lebih mudah menemukan kedatanganmu.

Ada sepasang remaja melewati depan kedai sore itu. Dengan seragam putih abunya. Dengan tawa yang seakan membuat orang yang melihat mereka mengira betapa kebahagiaan sedang menyelimuti mereka. Dengan lari-lari kecil yang menambah sensasi bahagia.

Aku salah satu orang yang melihat kebahagiaan itu. Kuambil ponselku. Mungkin akan aku gunakan gambar ini untuk postingan terbaruku dengan tambahan kutipan yang membuat beberapa orang merasa tersentuh.

"Hujannya makin lebat, kalau 30 menit belum reda, mungkin kita atur pertemuan berikutnya."

Pesan masuk darimu. Sudah kubaca. Kucoba mempraktikan teknik mengatur nafas. Katanya supaya oksigen membantu melancarkan peredaran darah di otak. Supaya otakku bisa berlogika. Meskipun kata orang, perempuan lebih didominasi perasaan.

Mungkin tidak semua rindu harus bertemu. Atau mungkin hanya aku yang merindu. Bagaimana mungkin hujan mengalahkanmu?

Comments

Popular posts from this blog

Kepada Embun, Tentang Daun Yang Basah

Pagi ini tidak terlalu berbeda dengan pagi-pagi biasanya. Semesta telah hafal perkara basahnya daun di pagi hari akibat embun yang menggelayutinya. Meski tak pernah bertahan sepanjang hari karena matahari akan dengan tega mengubah embun menjadi uap. Membuat daun yang basah lantas kering. Namun daun dengan sabar menanti hingga pagi berikutnya datang kembali. Menanti datangnya embun.
Kedatangan dan penantian keduanya kemudian menjadi siklus. Siklus yang terkandung manis dan pahitnya rasa. Sayangnya kadang siklus memiliki kesalahan. Kadang malam diterpa hujan kemudian pagi menjadi tidak begitu cerah. Meski daun akan tetap basah, tapi bukan karena embun. Maka lahirlah rindu. Rindu yang begitu ajaib sehingga mampu membedakan embun atau sekedar bulir hujan yang sama-sama membuat daun menjadi basah di pagi hari.
Tapi daun terlalu pemalu untuk menyampaikan rindu. Pikirnya menyimpan semua rindu-rindu itu akan lebih baik. Daun begitu pandai menyembunyikan semua rindunya. Saat embun datang, daun…

Harapan dan Khayalan Itu Beda Tipis?

Entah karena pesimis atau ambisius atau apalah sebutannya, Siska sudah tak mengerti lagi apa yang telah terjadi padanya. Bayangan pria itu seperti tak lelah bertengger, berputar-putar dalam memori otaknya. 
"Aaaaaaah apa aku sudah gila? Sepertinya dia memang telah membuatku tergila-gila! Bagaimana ini?" ungkap Siska di depan cermin dalam kamarnya.
Siska seperti keranjingan segala sesuatu tentang pria itu. Tak jarang dia berlagak seperti detektif. Mencari tahu segala hal yang bersangkutan dengan pria itu. Bahkan  tak pernah lelah memikirkan seseorang yang belum tentu memikirkannya juga. Dia bahkan baru mengenalnya ketika ada acara kampus bulan lalu. Berbagai cara telah dilakukan Siska hanya untuk mencari informasi mengenai pria itu. Sulit sekali rasanya bahkan hanya untuk mengetahui namanya. Sampai saat ini Siska juga belum tahu pasti apa yang menyebabkan pria itu begitu memesonanya.  
Hari demi hari berlalu, Siska terus berusaha menjalankan misinya, entah akan jadi mission …