Sunday, 12 March 2017

Kepada Hujan, Tentang Aku yang Menunggumu di Kedai Sore Itu

Kemarin aku masih mencintai hujan. Menganggapnya sebagai suatu fenomena berharga yang Tuhan berikan. Kemarin. Sebelum pertemuan kita terhambat karena kaubilang hujan turun ketika kau hendak berangkat menuju tempat pertemuan kita.

Aku memilih tempat di sudut kedai. Seperti biasa, dekat jendela. Sebenarnya bukan karena aku ingin menatap bulir-bulir hujan yang turun. Tapi supaya aku dapat lebih mudah menemukan kedatanganmu.

Ada sepasang remaja melewati depan kedai sore itu. Dengan seragam putih abunya. Dengan tawa yang seakan membuat orang yang melihat mereka mengira betapa kebahagiaan sedang menyelimuti mereka. Dengan lari-lari kecil yang menambah sensasi bahagia.

Aku salah satu orang yang melihat kebahagiaan itu. Kuambil ponselku. Mungkin akan aku gunakan gambar ini untuk postingan terbaruku dengan tambahan kutipan yang membuat beberapa orang merasa tersentuh.

"Hujannya makin lebat, kalau 30 menit belum reda, mungkin kita atur pertemuan berikutnya."

Pesan masuk darimu. Sudah kubaca. Kucoba mempraktikan teknik mengatur nafas. Katanya supaya oksigen membantu melancarkan peredaran darah di otak. Supaya otakku bisa berlogika. Meskipun kata orang, perempuan lebih didominasi perasaan.

Mungkin tidak semua rindu harus bertemu. Atau mungkin hanya aku yang merindu. Bagaimana mungkin hujan mengalahkanmu?

Ternyata Bukan Mimpi

Bukan suatu hal yang aneh ketika setiap perjalanan menyisakan sepenggal kisah. Memang pada hakikatnya, pelaku perjalanan akan mencari kisah...

Postingan Populer